Surat dari Surga
Tanah
pemakaman itu masih merah. Bunga yang ditebar pun masih segar. Sama halnya
dengan air mataku yang tak hentinya mengalir. Satu jam yang lalu, aku masih melihat
Azka dengan tubuhnya yang kaku. Sekarang, Azka berada dibawah nisan yang
bertuliskan namanya. Ya, Azka pergi untuk selamanya. Azka pergi karena tak lagi
kuat menanggung kanker paru yang ia derita selama ini. Kini Azka sendiri, tanpa
teman.
Bagiku,
Azka lebih dari sekadar sahabat. Azka adalah saudaraku, teman, sahabat, dan tempatku
bersandar. Azka, satu-satunya orang yang tak pernah bosan mendengarkan keluh
kesahku, amarahku, masalahku, dan semua hal yang ingin aku tumpahkan. Azka,
lebih dari tempat bersandar yang sempurna. Azka, dengan kesabarannya membantuku
menyelesaikan masalahku, menenangkan aku dan mengajari dan memberitahu jika aku
salah.