Kamis, 31 Mei 2012

Cerpen Saya

Surat dari Surga

            Tanah pemakaman itu masih merah. Bunga yang ditebar pun masih segar. Sama halnya dengan air mataku yang tak hentinya mengalir. Satu jam yang lalu, aku masih melihat Azka dengan tubuhnya yang kaku. Sekarang, Azka berada dibawah nisan yang bertuliskan namanya. Ya, Azka pergi untuk selamanya. Azka pergi karena tak lagi kuat menanggung kanker paru yang ia derita selama ini. Kini Azka sendiri, tanpa teman.
            Bagiku, Azka lebih dari sekadar sahabat. Azka adalah saudaraku, teman, sahabat, dan tempatku bersandar. Azka, satu-satunya orang yang tak pernah bosan mendengarkan keluh kesahku, amarahku, masalahku, dan semua hal yang ingin aku tumpahkan. Azka, lebih dari tempat bersandar yang sempurna. Azka, dengan kesabarannya membantuku menyelesaikan masalahku, menenangkan aku dan mengajari dan memberitahu jika aku salah.