Surat dari Surga
Tanah
pemakaman itu masih merah. Bunga yang ditebar pun masih segar. Sama halnya
dengan air mataku yang tak hentinya mengalir. Satu jam yang lalu, aku masih melihat
Azka dengan tubuhnya yang kaku. Sekarang, Azka berada dibawah nisan yang
bertuliskan namanya. Ya, Azka pergi untuk selamanya. Azka pergi karena tak lagi
kuat menanggung kanker paru yang ia derita selama ini. Kini Azka sendiri, tanpa
teman.
Bagiku,
Azka lebih dari sekadar sahabat. Azka adalah saudaraku, teman, sahabat, dan tempatku
bersandar. Azka, satu-satunya orang yang tak pernah bosan mendengarkan keluh
kesahku, amarahku, masalahku, dan semua hal yang ingin aku tumpahkan. Azka,
lebih dari tempat bersandar yang sempurna. Azka, dengan kesabarannya membantuku
menyelesaikan masalahku, menenangkan aku dan mengajari dan memberitahu jika aku
salah.
Kini
Azka pergi dan aku benar – benar tidak tahu harus kepada siapa akan bersandar,
menumpahkan tiap kekesalanku, amarahku dan masalahku. Aku layaknya orang yang
kehilangan separuh jiwa. Ya, bukan hanya jiwa, tapi juga nafas, pikiran dan
perasaan. Azka, harus kepada siapa aku bersandar ?
“Mbak Icha, ini ada surat dari mas Azka.
Sebelum mas Azka pergi, mas titipin surat ini ke Ara. Mas bilang, surat ini
buat mbak Icha.” Ara –adik perempuan Azka- menaruh surat Azka digenggamanku
lalu pergi bersama pelayat yang lain. Perlahan aku membuka surat dari Azka.
Dear Marissa,
Maaf, aku sudah
meninggalkanmu begitu cepat. Jangan marah padaku ataupun nasib yang begitu
cepat memisahkan kita. Ini semua ada hikmah yang nantinya menjadi pelajaran
untuk kita. Icha, kamu adalah sahabatku, dan selamanya akan begitu. Jika kamu
merindukan aku ingatlah selalu pesan ini :
Hidup bukan tentang bagaimana caramu terlihat
diantara keramaian. Hidup bukan tentang dengan siapa dan
apa kau hidup saat ini. Hidup bukan tentang permasalahanmu
dan rasa sakitmu. Hidup bukan tentang dengan apa, siapa dan dimana kau belajar.
Tapi hidup adalah bagaimana kau
dibutuhkan saat kau tak ada. Tapi hidup adalah saat kau bersama
dengan yang kau cintai dan mencintaimu. Tapi hidup adalah ketika kau mampu
dewasa dari rasa sakit dan masalahmu. Tapi hidup adalah saat kau mampu melihat
bahwa bukan hanya kau saja didunia ini yang memiliki masalah, bukan hanya kau
saja yang merasa tersakiti, dan kau belajar dari rasa sakit dan masalah dari
sekelilingmu, yang tidak hanya datang padamu.
Mengeluh, silahkan saja. aku akan
dengar. Tapi
kau harus bangkit dan semangat. Jangan jadikan keluhan sebagai hal yang memberatkan jalanmu. Karena... hidup ini pun sudah berat.
Salam,
Azka
Aku
terdiam, meresapi kata-kata Azka. Azka benar. Aku harus berubah dan kuat. Azka.
Ya, demi Azka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.