Kamis, 31 Mei 2012

Cerpen Saya

Surat dari Surga

            Tanah pemakaman itu masih merah. Bunga yang ditebar pun masih segar. Sama halnya dengan air mataku yang tak hentinya mengalir. Satu jam yang lalu, aku masih melihat Azka dengan tubuhnya yang kaku. Sekarang, Azka berada dibawah nisan yang bertuliskan namanya. Ya, Azka pergi untuk selamanya. Azka pergi karena tak lagi kuat menanggung kanker paru yang ia derita selama ini. Kini Azka sendiri, tanpa teman.
            Bagiku, Azka lebih dari sekadar sahabat. Azka adalah saudaraku, teman, sahabat, dan tempatku bersandar. Azka, satu-satunya orang yang tak pernah bosan mendengarkan keluh kesahku, amarahku, masalahku, dan semua hal yang ingin aku tumpahkan. Azka, lebih dari tempat bersandar yang sempurna. Azka, dengan kesabarannya membantuku menyelesaikan masalahku, menenangkan aku dan mengajari dan memberitahu jika aku salah.


            Kini Azka pergi dan aku benar – benar tidak tahu harus kepada siapa akan bersandar, menumpahkan tiap kekesalanku, amarahku dan masalahku. Aku layaknya orang yang kehilangan separuh jiwa. Ya, bukan hanya jiwa, tapi juga nafas, pikiran dan perasaan. Azka, harus kepada siapa aku bersandar ?
 “Mbak Icha, ini ada surat dari mas Azka. Sebelum mas Azka pergi, mas titipin surat ini ke Ara. Mas bilang, surat ini buat mbak Icha.” Ara –adik perempuan Azka- menaruh surat Azka digenggamanku lalu pergi bersama pelayat yang lain. Perlahan aku membuka surat dari Azka.

Dear Marissa,
Maaf, aku sudah meninggalkanmu begitu cepat. Jangan marah padaku ataupun nasib yang begitu cepat memisahkan kita. Ini semua ada hikmah yang nantinya menjadi pelajaran untuk kita. Icha, kamu adalah sahabatku, dan selamanya akan begitu. Jika kamu merindukan aku ingatlah selalu pesan ini :
Hidup bukan tentang bagaimana caramu terlihat diantara keramaian. Hidup bukan tentang dengan siapa dan apa kau hidup saat ini. Hidup bukan tentang permasalahanmu dan rasa sakitmu. Hidup bukan tentang dengan apa, siapa dan dimana kau belajar.
Tapi hidup adalah bagaimana kau dibutuhkan saat kau tak ada. Tapi hidup adalah saat kau bersama dengan yang kau cintai dan mencintaimu. Tapi hidup adalah ketika kau mampu dewasa dari rasa sakit dan masalahmu. Tapi hidup adalah saat kau mampu melihat bahwa bukan hanya kau saja didunia ini yang memiliki masalah, bukan hanya kau saja yang merasa tersakiti, dan kau belajar dari rasa sakit dan masalah dari sekelilingmu, yang tidak hanya datang padamu.
Mengeluh, silahkan saja. aku akan dengar. Tapi kau harus bangkit dan semangat. Jangan jadikan keluhan sebagai hal yang memberatkan jalanmu. Karena... hidup ini pun sudah berat.
Salam,
Azka
            Aku terdiam, meresapi kata-kata Azka. Azka benar. Aku harus berubah dan kuat. Azka. Ya, demi Azka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.