Minggu Pagi, 06.00 Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.
Hei, kau tak apa ? jika sudah membaik hubungi aku secepatnya. aku akan mendengarkan ceritamu. apapun itu.
William Jefferson
Aku terhenyak. Pesan singkat yang Will kirim kepadaku memang menandakan bahwa ia semalam ingin menemuiku di mansion ini, tapi aku pergi. Ya, aku menemui Daniel, mantan kekasihku saat aku di Indonesia. Aku terdiam. Haruskah aku menemui Will saat ini? Sedang perasaanku berkecamuk tak menentu. Kenangan itu seolah berputar di otakku. Mencoba membelengguku satu persatu.
Namaku Charlotte Sapphire Hills. Terdengar aneh ya ? tapi aku suka dengan nama ini. Sapa aku dengan panggilan Char dan aku akan menoleh. Aku lahir dan di besarkan di Cambridge. Tempat tinggalku adalah lingkungan yang indah dan nyaman. Dan aku juga punya beberapa sahabat yang tinggalnya tak jauh dari rumahku, seperti Rose, Jean, dan Nancy. Namun, sebagai anak tunggal kadang aku kesepian, maklum saja, Dad -James Hills- keturunan Amerika dan bekerja sebagai adalah seorang Duta Besar Amerika. Sedang Mum -Arinna Hills-, adalah orang Indonesia. Mereka bertemu dan berpacaran saat kuliah di Harvard University. Untuk itu aku memutuskan untuk memelihara seekor kucing anggora bernama Sapphire. Ya, ku ambil nama tengahku karena matanya yang biru seperti sapphire, seperti mataku.
Aku sempat tinggal di Indonesia selama 3 tahun karena Dad di pindahkan-tugaskan. Sejujurnya, saat itu aku tak ingin meninggalkan Cambridge dan memilih untuk tinggal bersama Grandma tapi Mum tak merelakannya. Aku memulai egoku. Mogok makan dan tak keluar kamar selama 3 hari. Tentu saja aku sudah menyiapkan beberapa cemilan agar aku tetap bertahan selama mengurung diri di kamar. Setelah negosiasi yang panjang, akhirnya di dapat keputusan yang membuatku tetap harus pindah ke Indonesia, tapi saat aku sudah kuliah nanti, aku boleh tinggal dan kuliah di Cambridge. Terpojok, mau tak mau harus setuju dengan keputusan ini. Aku mengalah, lelah. Ku ceritakan kepada sahabatku, dan mereka hanya menangis serta menguatkanku akan perpisahan ini.
"tiga tahun" ujarku sambil menghapus airmata mereka.Kami menangis bersama di bawah pohon oak tua tempat kami biasa bermain.
"Nanti kita akan bertemu di Harvard. Aku janji" ku genggam tangan mereka.
"Tapi, Char, kau jangan punya pacar disana ya ?" ujar Jean.
Keningku mengkerut "memangnya kenapa?"
Nancy menatapku "Jika kau punya pacar kau pasti berat meninggalkan Indonesia." Aku terdiam.
"Ya, dan Impian kita untuk bersama-sama di Harvard tak akan terwujud. Aku tak ingin itu terjadi" Ujar Rose sesegukan. Aku terpaku. Lama.
"Aku janji. Tiba masanya nanti aku akan bersama kalian di Harvard dan aku tak akan punya pacar selama di Indonesia" aku memeluk mereka. Yah, perpisahan ini membuatku merasa berat meninggalkan Cambridge.
Masa itu datang. Masa dimana aku akhirnya pindah ke Indonesia. Masa saat cerita yang rumit dimulai. Saat itu, Mum terlihat paling senang karena kembali ke negara-nya.
"hei nona Hills, jangan bersedih. Indonesia tak seburuk yang kau dengar." ujar Mum kepadaku. Aku mengangguk lemah sambil tersenyum tipis. Perjalanan yang melelahkan membuatku lebih banyak diam. Kami telah tiba di Jakarta dan di jemput oleh salah satu rekan Dad.
"Char, Dad sudah mendaftarkan kau di sekolah yang tak begitu jauh dari rumah. Dad harap kau akan cepat punya teman baru" ujar Dad dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar. Rekan Dad tersenyum melihatku melalui kaca belakang.
"James, kau punya anak gadis yang manis. Tak lama lagi akan ada seorang lelaki yang datang bermain ke rumahmu dan melihat anakmu" selorohnya. Dad dan Mum tertawa.
"Char sedari kecil memang manis dan menawan hati. Tapi ia tertutup untuk urusan cowok" Mum menggodaku. Aku melengos. Seloroh seperti apapun tak akan mengubah suasana hatiku. Sepenuhnya belum mengikhlaskan kepindahan ini.
Aku memikirkan kata-kata Mum. Mum benar. Aku sepertinya memang cukup manis. Rambutku hitam panjang dan kulitku kuning langsat seperti Mum. Hidung mancung dan mata biru sapphire ku dapat dari Dad. Yah, walau aku manis, aku tak banyak memiliki teman cowok. Sempat di Cambridge saat aku masih SMP, beberapa cowok yang usianya lebih dewasa dariku mengajakku berkencan tetapi ku tolak. Entahlah, aku tak tertarik. Ku ingat, Nancy menggeram kepadaku "Kau ini manis Char, tapi kau sangat cuek. Apa kau tak ingin punya pacar ?".
Aku terdiam. "Aku belum ingin pacaran. Mungkin nanti saat aku di SMU. Aku ingin memiliki cinta yang dewasa, saat usiaku matang nanti" ujarku. Nancy memandangku dengan tatapan kasihannya-kau- char.
"Char, are you okay ? selama perjalanan ini Dad tak mendengar suaramu. Ada apa ? Kau tak senang pindah ke Indonesia ?" Dad menatapku.
"I'm fine, Dad. Hanya saja perjalanan ini cukup melelahkan." aku memandang Mum. Dad mengangguk paham.
"Mum tahu. Kau masih belum ikhlas." Mum menatap mataku. Tersirat sedih.
"No, Mum. Aku hanya lelah. Mungkin aku jet-lag." aku membantah. Bohong.
-c-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.