Sabtu, 14 September 2013

Jika aku boleh meminta...


Allah, mungkin kalau Kau punya rasa bosan,
Kau mungkin sudah cukup jengah atas permohonan dan permintaanku,
Kau mungkin sudah cukup bosan karena rasa syukur ku yang tak sebanding dengan terkabulnya tiap permohonan dan tiap anugerah yang telah Engkau beri di semesta yang demikian fana,
Atau ibadahku yang terkadang belum tulus ikhlas serta kekurangan-kekuranganku dalam ibadah.
Allah, aku tak kan banyak meminta
Balaslah sepantasnya atas tiap  doa ibu yang berhembus dari nafasnya,
Balaslah sepantasnya atas tiap keringat yang diteteskan ayah dalam mencari rezekiMu
Balaslah kebaikan dan kasih sayang atas kedua adikku, sahabat-sahabatku, dan orang – orang yang sayang padaku,
Allah, jika aku boleh meminta...
Ku ingin menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi sesama serta berjuang dalam jalanMu
Allah, Kau jauh lebih tahu hatiku dan keinginanku,
Namun Engkau lebih tahu apa yang ku butuhkan
Allah.. jika aku boleh meminta...

Kamis, 06 September 2012

Aku Kembali

Aku tiba
Saat senja menurunkan matahari
Di kotamu, Jogja
Penatku, letihku, sabarku
Jadi satu
Menunggu kereta, di stasiun ini

Pada Senja yang Tak Biasa

Senja kali ini pada 1 Ramadhan tahun ketiga-ku, disini
Suara Adzan maghrib menggema pertanda waktu berbuka, tapi aku sendiri
Senja kali ini, ingin ku tumpahkan peliknya perasaan hati
Tak biasa, lidah ini terlalu kelu, namun airmata mewakili

Entahlah, senja ini begitu berbeda, tak biasa
Ada segenap resah yang ingin ku perjelas, tapi aku tak kuasa
Aku tak ingin membohongi nurani, tapi aku cinta

Kamis, 31 Mei 2012

Cerpen Saya

Surat dari Surga

            Tanah pemakaman itu masih merah. Bunga yang ditebar pun masih segar. Sama halnya dengan air mataku yang tak hentinya mengalir. Satu jam yang lalu, aku masih melihat Azka dengan tubuhnya yang kaku. Sekarang, Azka berada dibawah nisan yang bertuliskan namanya. Ya, Azka pergi untuk selamanya. Azka pergi karena tak lagi kuat menanggung kanker paru yang ia derita selama ini. Kini Azka sendiri, tanpa teman.
            Bagiku, Azka lebih dari sekadar sahabat. Azka adalah saudaraku, teman, sahabat, dan tempatku bersandar. Azka, satu-satunya orang yang tak pernah bosan mendengarkan keluh kesahku, amarahku, masalahku, dan semua hal yang ingin aku tumpahkan. Azka, lebih dari tempat bersandar yang sempurna. Azka, dengan kesabarannya membantuku menyelesaikan masalahku, menenangkan aku dan mengajari dan memberitahu jika aku salah.

Kamis, 08 Maret 2012

Chapter 1

Minggu Pagi, 06.00 Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat.


Hei, kau tak apa ? jika sudah membaik hubungi aku secepatnya. aku akan mendengarkan ceritamu. apapun itu.


William Jefferson

Aku terhenyak. Pesan singkat yang Will kirim kepadaku memang menandakan bahwa ia semalam ingin menemuiku di mansion ini, tapi aku pergi. Ya, aku menemui Daniel, mantan kekasihku saat aku di Indonesia. Aku terdiam. Haruskah aku menemui Will saat ini? Sedang perasaanku berkecamuk tak menentu. Kenangan itu seolah berputar di otakku. Mencoba membelengguku satu persatu.

Namaku Charlotte Sapphire Hills. Terdengar aneh ya ? tapi aku suka dengan nama ini. Sapa aku dengan panggilan Char dan aku akan menoleh. Aku lahir dan di besarkan di Cambridge. Tempat tinggalku adalah lingkungan yang indah dan nyaman. Dan aku juga punya beberapa sahabat yang tinggalnya tak jauh dari rumahku, seperti Rose, Jean, dan Nancy. Namun, sebagai anak tunggal kadang aku kesepian, maklum saja,  Dad -James Hills- keturunan Amerika dan bekerja sebagai adalah seorang Duta Besar Amerika. Sedang Mum -Arinna Hills-, adalah orang Indonesia. Mereka bertemu dan berpacaran saat kuliah di Harvard University. Untuk itu aku memutuskan untuk memelihara seekor kucing anggora bernama Sapphire. Ya, ku ambil nama tengahku karena matanya yang biru seperti sapphire, seperti mataku.